Pernahkah Anda memperhatikan betapa sulitnya membangun sebuah rumah? Butuh waktu berbulan-bulan, tumpukan batu bata, semen, dan tenaga kerja yang memeras keringat setiap hari agar bangunan itu bisa berdiri tegak. Namun, cobalah membawa satu unit buldozer. Dalam hitungan jam saja, rumah yang dibangun dengan berdarah-darah itu bisa langsung rata dengan tanah.

Fenomena nyata ini dikenal sebagai “Garis Kematian Senewen” atau Seneca’s Cliff (Tebing Seneca). Istilah ini diambil dari nama seorang filsuf Romawi kuno, Lucius Annaeus Seneca, yang menuliskan kalimat bijak: Ruina praecipitat, crescitis tarda. Artinya, kemajuan itu berjalan sangat lambat, tetapi kehancuran terjadi dengan sangat cepat.

Jika digambarkan dalam sebuah grafik, sebuah pertumbuhan berjalan landai seperti lereng gunung. Kita harus merangkak naik perlahan-lahan. Namun, begitu menyentuh titik kejatuhan, grafiknya tidak turun perlahan, melainkan terjun bebas seperti tebing yang curam.

Realitas Program Makan Bergizi Gratis

Di Indonesia saat ini, Teori Tebing Seneca ini sangat terasa dalam dinamika sosial politik kita, salah satunya pada pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis. Program skala nasional ini dirancang dengan niat yang sangat baik: memutus rantai stunting, memperbaiki gizi anak-anak sekolah, dan menyiapkan SDM unggul untuk masa depan bangsa.

Namun, membangun sistem logistik untuk membagikan jutaan porsi makanan setiap hari secara merata dari Sabang sampai Merauke adalah pekerjaan yang luar biasa rumit. Butuh waktu panjang untuk menyinkronkan data, menggerakkan UMKM lokal, memastikan dapur umum higienis, hingga mengatur anggaran negara yang besar. Prosesnya lambat dan penuh ujian (crescitis tarda).

Sayangnya, ada kecenderungan kuat di masyarakat kita saat ini di mana program Makan Bergizi Gratis selalu dianggap tidak ada yang berhasil.

Begitu ada satu laporan tentang keterlambatan distribusi di sebuah desa, atau satu kasus menu makanan yang dinilai kurang selera, seluruh usaha dan niat baik program ini langsung dianggap gagal total oleh netizen.

Di media sosial, kita melihat bagaimana sebuah narasi negatif mampu meruntuhkan kepercayaan publik dalam semalam. Persiapan matang berbulan-bulan seolah lenyap begitu saja hanya karena satu isu yang digoreng secara masif. Inilah bentuk nyata dari Ruina praecipitat (kehancuran yang cepat) dalam aspek psikologi sosial—membangun programnya butuh waktu lama, tetapi meruntuhkan reputasinya hanya butuh hitungan detik lewat satu unggahan viral.

Mengapa Kita Harus Berhati-hati?

Ketika kita terbiasa menutup mata dari proses yang sedang berjalan dan hanya berfokus pada narasi kegagalan, kita sedang membawa bangsa ini menuju Tebing Seneca yang sesungguhnya. Jika program ini selalu dicap gagal tanpa evaluasi yang objektif, dampaknya bisa fatal. Anak-anak kita bisa kehilangan kesempatan mendapatkan gizi yang baik karena program terancam dihentikan akibat tekanan opini publik.

Kita harus belajar menghargai proses yang lambat. Menilai keberhasilan sebuah program besar tidak bisa dilakukan dalam semalam. Mengkritik kekurangan teknis dan mengawasi anggaran program Makan Bergizi Gratis itu wajib agar tepat sasaran. Namun, menganggap seluruh program ini “tidak ada yang berhasil” hanya karena kerikil di awal jalan adalah cara tercepat untuk mendorong masa depan anak-anak kita jatuh ke tebing kehancuran.

Leave a Comment